bintang

Minggu, 25 Januari 2015

Cerita Kuliner



Tetap Semangat Membuat Kue Walau Hujan Menghadang
Komunitas Bloger ini gak ada habis-habisnya membuat challenge yang menantang. Kali ini Kombun memberikan challenge seputar cerita kuliner. Mmmmm yummy... oke saya sangat tertarik dengan challenge ini. Berikut cerita kuliner saya saat liburan kuliah semoga dapat bermanfaat.
Waktu itu, Camel (teman kuliah saya) mengajak liburan untuk mengisi waktu kosong menjadi hal yang bermanfaat. Kami sepakat untuk membuat kue bersama di rumah Camel. Camel mengajak saya karena rumah kami tidak terlalu jauh. Kami ingin membuat Puff Pastry Slice yaitu kue yang berlapis-lapis renyah gurih dengan bentuk yang bermacam-macam lipatan gitu dehhh. Kenapa kita memilih untuk membuat kue tersebut?  jawabannya, pertama karena kita punya resepnya dan sudah pernah di uji coba saat praktik di kampus, kedua Camel masih punya Korsvet, ketiga bahan-bahannya tidak terlalu sulit hanya tepung terigu, air, mentega, garam, dan air jeruk nipis, serta bahan isian.
Keesokan harinya, saya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Camel. Tak lupa membawa tempat makan kosong yang besar untuk membawa hasil bikinan kue tersebut. Hal ini selalu menjadi kebiasaan kami saat praktik di kampus juga hehehe... .Namun, cuaca nampaknya tidak cerah alias mendung. Tak lama kemudian hujan turun. Ini membuat saya malas keluar rumah karena saya tidak punya payung. Camel menghubungi saya bahwa di rumahnya sudah tidak turun hujan. Akhirnya, hujan di rumah saya pun juga berhenti. Saya langsung pergi menuju rumah Camel. Setelah tiba di gang rumah Camel, saya minta di jemput karena dari gang menuju rumahnya sangat jauh. Setelah tiba di rumahnya, kami membuat daftar belanja dan menyiapkan alat-alat yang di butuhkan. Lagi-lagi hujan turun sehingga kami menunda pergi untuk belanja bahan. Setelah menunggu beberapa jam, hujan pun tak kunjung berhenti. Dengan penuh semangat kami memaksakan diri berboncengan motor dengan memakai jas hujan untuk membeli bahan-bahan di pasar.
Semua bahan-bahan telah siap, kami langsung membagi tugas dalam membuat kue Puff Pastry Slice. Saya bertugas untuk membuat adonan, sedangkan Camel bertugas membuat cream. Di sela-sela membuat kue kami selalu bercengkrama mengenai teman-teman di kelas. Kelucuan mengenai teman di kelas membuat kita tertawa saat membuat kue. Kini adonan puff siap dicetak dan dibentuk. Camel mencetak adonan dan saya melipat bentuk kincir dan lainnya. Setelah semua selesai, kue siap dipanggang. Jam menunjukkan pukul 5 sore, tak terasa sudah 5 jam kami membuat kue ini. Memang, kue ini membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya. Yeayy... Puff Pastry Slice sudah siap dikeluarkan dari oven. Kami langsung menghiasnya dengan cream isi buah. Setelah itu, kami memotret kue sebagai kenang-kenangan dan menikmatinya hmmmm yummy... rasanya enak sekali.  Tak lupa saya membawa hasil buatan Puff Pastry Slice untuk oleh-oleh keluarga di rumah.
Begitulah cerita kuliner saya saat liburan kuliah untuk memanfaatkan liburan sebagai hal positif menambah pengalaman dalam membuat kue bersama teman. Bagaimana dengan cerita kuliner kamu???



Minggu, 18 Januari 2015

Resensi Film Stand By Me Doraemon

Siapa yang tidak kenal dengan film kartun Doraemon. Ya ... film ini saya tonton sejak kecil sekitar berumur 5 tahun. Kartun ini dulu selalu hadir di tv setiap hari Minggu pagi dan dilanjutkan dengan film-film kartun lainnya. Namun, dari semua film kartun, yang saya sukai dari kecil hingga saat ini hanya kartun Doraemon karena film ini menceritakan sebuah robot kucing yang ajaib bernama Doraemon yang selalu membantu Nobita jika mengalami kesulitan. Alat-alat ajaib yang dikeluarkan oleh Doraemon membuat saya menjadi berimajinasi sejak kecil. Film kartun Doraemon sudah mengeluarkan banyak judul-judul yang seru. Adapula movie nya yang sudah beberapa kali tayang di tv. Seiring berjalannya waktu, muncul kembali movie Doraemon di tahun 2014. Ada yang mengatakan bahwa kartun ini merupakan judul film terakhir dari Doraemon. Saya pun sedih dengan berita tersebut padahal film ini banyak disukai oleh masyarakat  dunia. Mereka yang saat ini telah dewasa dapat bernostalgia kembali ke masa kecil apabila menonton film ini yang berjudul STAND BY ME DORAEMON yang artinya Tetaplah Bersamaku Doraemon. Judulnya sudah membuat semua orang bertanya-tanya apakah doraemon sudah tidak ada lagi atau dia akan tetap tinggal bersama Nobita?.
Saya pun penasaran dengan film ini. Saya mengajak kakak dan adik saya untuk pergi menonton di bioskop, tetapi mereka masih sibuk dengan tugas kuliahnya. Akhirnya, saya menunggu hari yang tepat untuk menonton film ini. Kami berencana menonton film pada hari Minggu tanggal 21 Desember 2014. Tak disangka, saya mendapat informasi dari salah satu teman kuliah bahwa film STAND BY ME DORAEMON dapat di download di internet (wahhh boleh juga tuh lumayan uangnya bisa buat print tugas kuliah.. hehehe maklum mahasiswa). Mungkin hal ini terjadi karena banyaknya penggemar Doraemon yang ingin menonton film tersebut. Kami pun tidak jadi nonton di bioskop. Tak ada bioskop, ruang tamu pun dapat kami jadikan bioskop dadakan dengan mematikan lampu ruangan hehehe.... Berikut saya akan meresensi film STAND BY ME DORAEMON yang membuat pembaca tertarik ingin menontonnya.
Judul film                   : STAND BY ME DORAEMON
Sutradara                   : Takashi Yamazaki
Karya                          : Fujiko Fujio
Studio                         : Fujiko Movie Studio
Distributor                  : Walt Disney International Japan
Tanggal rilis              : 8 Agustus 2014
Pemain utama          : Doraemon, Nobita, Shizuka, Big G, Jaiko, Suneo, Soby,
                                  Dekisugi
           

Awalnya, muncul seorang anak laki-laki dan robot kucing yang keluar dari laci Nobita. Ia bernama Soby dan Doraemon. Mereka adalah generasi ke empat  abad 22 dari keturunan Nobita. Soby merasa kasian dengan kakenya, yaitu Nobita yang selalu tidak bahagia dalam hidupnya. Nobita diberi penjelasan oleh Soby mengapa generasinya bisa seperti ini. Nobita akan menikah dengan Jaiko, yaitu adik Big G dan Nobita akan bangkrut dalam pekerjaannya. Hal ini membuat generasi Nobita menjadi menderita dan miskin. Jika generasi Nobita berikutnya tidak ingin hidup menderita dan miskin, maka Soby mengirim sebuah robot kucing bernama Doraemon untuk membantu membahagiakan Nobita sehingga generasi Nobita pun akan hidup bahagia di masa depan. Pada awalnya Doraemon tidak setuju dengan hal ini, tetapi Soby memberi janji bahwa jika Doraemon sudah berhasil membuat Nobita bahagia, maka Doraemon boleh kembali ke abad 22. Akhirnya Doraemon tinggal dengan Nobita. 
            Doraemon memperkenalkan alat ajaib yang pertama, yaitu baling-baling bambu. Nobita pun belajar dengan Doraemon bagaimana menggunakan baling-baling bambu agar bisa terbang dengan nyaman. Kemudian, Nobita merasa takjub dengan alat-alat yang dimiliki oleh Doraemon. Ia berpikir bahwa alat-alat ajaib Doraemon dapat membalas perbuatan Suneo dan Big G yang sudah keterlaluan. Pintu kemana saja juga membantu Nobita agar tidak terlambat datang ke sekolah. Alat-alat Doraemon akan membuat Nobita merasa bahagia. Namun, hanya satu yang dapat membuat Nobita bahagia selamanya, yaitu apabila ia dapat menikah bersama Shizuka di masa depan. Shizuka merupakan teman perempuan Nobita yang sudah lama ia sukai. Nobita akan menikah dengan Shizuka apabila ia mau berusaha sendiri mengubah sikapnya tanpa bantuan dari Doraemon. Tetapi, ada teman laki-laki Nobita bernama Dekisugi yang jauh lebih baik, pintar, ganteng, dan sopan dari Nobita. Ia juga senang dengan Shizuka tetapi tidak berlebihan. Nobita menganggap bahwa ia lebih pantas menikah dengan Shizuka. Meskipun begitu, Nobita tetap tidak rela jika hal ini terjadi. Ia berusaha menghindari Shizuka. Ia takut, jika Shizuka menikah dengannya maka Shizuka tidak akan bahagia.
            Doraemon mengatakan bahwa ada kemungkinan bila Nobita menikah dengan Shizuka karena kebaikan dari Nobita sendiri yang akan merubah masa depannya. Doraemon mengajak Nobita menonton tv waktu. Pada tanggal 25 Oktober di tayangkan bahwa Nobita akan bertunangan. Nobita melihat ia sudah dewasa, tetapi sikap Nobita tidak berubah. Saat itu, Shizuka mengajak Nobita mendaki Gunung bersalju, tetapi Nobita dewasa menolaknya sehingga Shizuka pergi sendiri dengan membawa perlengkapan mendaki. Saat Shizuka sedang mendaki, terdapat badai salju yang lebat sehingga menyulitkan Sizuka berjalan. Nobita kecil dan Doraemon kasihan melihat Shizuka dari tv yang sedang mendapat masalah besar. Untuk itu, Nobita mengajak Doraemon pergi ke masa depan Nobita yang sudah dewasa dengan bantuan alat Doraemon. Nobita sendiri tanpa bantuan Doraemon akhirnya menyusul Shizuka yang sedang mendapat masalah di Gunung salju. Setelah Nobita bertemu dengan Shizuka, ia pun juga kesulitan untuk membawa Shizuka yang telah tidak sadarkan diri kembali pulang. Nobita dewasa merasa terpanggil untuk menolong mereka. Dengan kebaikan Nobita, maka Shizuka menerima lamaran dari Nobita untuk menikah dengannya. Kejadian ini membuat Nobita kecil senang bahwa ia dapat melihat masa depannya akan bahagia. Begitupun teman-temannya, Suneo, Big G, dan Jaiko. Nobita dan Doraemon pun kembali ke masa kini. 

            Setelah sekian lama tinggal dengan Nobita dan membahagiakan Nobita yang melihat masa depannya akan bahgia, Doraemon merasa terpanggil bahwa ia akan kembali ke masa depan bertemu dengan Soby. Namun, Doraemon sedih jika harus berpisah dan tak terasa Doraemon meneteskan air mata ketika ia mengingat segala tingkah laku Nobita yang ada di dalam dirinya. Doraemon berharap Nobita tidak boleh bergantung padanya lagi karena ia akan kembali ke masa depan. Ia harus berusaha mengatasi hal apapun sendiri. Nobita merasa tak terima dengan  keadaan ini. Ia pun pergi ke lapangan bermain, dimana ia akan melawan Big G sendiri tanpa bantuan Doraemon. Hal ini pun tak diketahui oleh Doraemon. Dengan sekuat tenaga ia melawan Big G dan akhirnya Big G mengakui bahwa Nobita menang melawannya. Doraemon berhasil menemukan Nobita yang terkulai lemas dan mengatakan bahwa Doraemon tak usah khawatir dengannya karena ia sudah membuktikan bahwa ia bisa melawan Big G. Doraemon pun pergi dengan menangis bahagia. 
            Hari-hari pun berlalu tanpa ada Doraemon. Bulan April telah tiba, Nobita terkena jebakan (April Mop) oleh Giant dan Suneo. Ia teringat Doraemon yang menitipkan ramuan pembohong. Ramuan ini cocok digunakan pada saat April Mop. Awalnya, Nobita menggunakan ramuan ini untuk membalas kebohongan yang dilakukan oleh Suneo dan Giant, tetapi setelah ia berhasil membalasnya ia pun kembali ke rumah dan mengatakan bahwa Doremon tidak akan kembali. Tentu hal ini membuat kebalikan dari apa yang terjadi. Doraemon pun kembali muncul dan Nobita terus mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bahagia dan bahkan selamanya Doraemon tidak akan terus bersamanya. Pada akhirnya, Doraemon selamanya akan tetap tinggal bersama-sama dengan Nobita.



            Begitulah referensi dari sebuah film kartun Jepang yang sangat terkenal STAND BY ME DORAEMON. Doraemon adalah robot berbentuk kucing yang luar biasa di ciptakan di film ini. Dengan adanya film ini, pasti membuat kita menjadi berimajinasi. Ada sebuah makna dari film ini yang membuat saya menjadi termotivasi, yaitu masa depan ada di tangan kita, tergantung bagaimana kita melakukannya. Jika saat ini kita melakukannya dengan baik atas usaha kita sendiri, maka masa depan akan cerah, begitu pun sebaliknya. Untuk itu, bermimpilah yang sebesar-besarnya, tetapi bersegeralah untuk mengerjakan sekecil-kecilnya kebaikan yang terdekat.

Postingan ini adalah kurikulum KOMBUN periode 12-19 Januari 2015 dengan tema “Resensi Film”.

Selasa, 25 November 2014

Surat Blog untuk Guru



Surat Blog untuk Guru

Jakarta, 25 November 2014

Yth.
bapak dan ibu guruku tercinta di manapun berada

Hari ini merupakan Hari Guru se-dunia. Di hari yang spesial ini aku ingin mengucapkan “SELAMAT HARI GURU” terima kasih yang sebesar-besarnya untuk bapak dan ibu guruku dari SD, SMP, dan SMA yang telah mendidik ku tanpa lelah. Jasa-jasamu tak bisa dibalas oleh harta atau apapun. Engkau selalu berharap agar kelak anak didiknya menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Nasihatmu  akan ku kenang selalu hingga akhir hayat.
Akan ku lanjutkan tongkat estafet pengabdian yang telah Engkau ajarkan dan seruanmu akan ku jadikan pegangan.  Engkau selalu memberikan semangat belajar yang tak ada henti-hentinya. Engkau seakan tak pernah merasa lelah untuk mendidik anak-anak bangsa. Guru, nama baikmu akan selalu kami jaga sampai kapanpun.
Guru, belum ada yang bisa kuberikan untuk membalas semua jasamu selama ini. Namun, aku hanya bisa menyampaikan rasa terima kasih mendalam melaui surat ini. Di sini aku terus belajar untuk melanjutkan perjuanganmu. Akan ku ingat selalu nasihatmu. Akan ku lanjutkan baktiku pada Ibu pertiwi

Terima kasih ku ucapkan padamu
Terima kasih ku persembahkan untukmu
Terima kasih atas segala yang kau berikan
     
Salam hangat dari anakmu

    Anisa Mardotillah

Sabtu, 27 September 2014

KASTENGLES
(1000 GRAM)
Bahan :

Butter 300 gr
Margarin 100gr
Kuning telur 40 gr
Putih telur 30 gr
Keju tua/edam 150 gr
Tepung terigu 450gr
Maizena 50 gr
Keju cheddar 100 gr

Cara membuat :

1.  Kocok butter, margarin, dan gula halus hingga putih dan lembut. Masukkan telur kocok hingga rata.
2.  Kemudian masukkan keju tua, lalu tepung terigu dan maizena, aduk rata.
3.  Cetak adonan, poles dengan kuning telur dan taburi keju cheddar.
4.  Panggang hingga kuning kecokelatan.


Kisah inspirasi dari sebuah perjalanan hidupku...


Titik Awal Menuju Impian
Aku merupakan anak ke-2 dari tiga bersaudara. Usia adikku hanya berbeda dua tahun. Dari kecil, aku sudah bercita-cita ingin menjadi seorang juru masak yang terkenal. Hal ini bermula karena waktu kecil aku sering sekali bermain masak-masakan dan lambat laun menjadi hobiku sampai detik ini dan selamanya. Saat aku berusia 5 tahun, sambil memasak di dapur ibuku mengajari aku membaca dan menulis. Setiap hari ia lakukan agar aku bisa membaca dan menulis saat sekolah nanti. Namun, setiap ia mengajariku, aku justru penasaran dengan yang ibu lakukan saat memasak daripada papan tulis yang ada dipintu dengan tulisan “INI IBU BUDI, INI AYAH ANI”. Lain halnya dengan aku, adikku lebih memperhatikan apa yang tertulis di papan tulis. Meskipun kadang kala aku hilang konsentrasi pandangan dari papan tulis dan dimarahi oleh ibu, tetapi akhirnya aku bisa membaca dan menulis begitupun adikku juga sudah bisa membaca.
Pendaftaran Sekolah Dasar telah tiba. Aku dan ibu bersiap-siap ke sekolah. Ayah dan Ibu berharap agar aku bisa masuk Sekolah Dasar Negeri. Akhirnya, aku diterima di SDN 05 Pagi, kebetulan sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah. Selama 6 tahun, aku belajar di sekolah itu dan menemukan banyak teman yang sampai saat ini masih berkomunikasi. Dari kecil, aku sudah dipanggil chef di lingkungan keluarga karena aku sering membantu ibu memasak, bahkan aku sudah bisa memasak dan menyiapkan bekal sendiri setiap pergi ke sekolah. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, aku melanjutkan sekolah di SMPN 237. Saat itu, aku ingin sekali cepat-cepat lulus agar aku bisa masuk ke sekolah memasak yang ada di SMKN 24.
Aku semakin giat belajar dan setelah lulus dari SMP ternyata nilai UN ku bagus untuk masuk ke SMA Negeri sehingga ibu, ayah, dan kakakku menyarankan agar aku masuk ke SMA Negeri. Kakakku adalah anak yang selalu berprestasi di sekolahnya, mulai dari SD, SMP, dan SMA sehingga akupun berfikir ingin seperti kakakku. Akhirnya, aku mendaftar di SMAN 64 meninggalkan impianku. Saat itu, aku seperti melupakan apa yang aku impikan sejak kecil. Selama SMA aku tetap belajar dengan tekun dan menghasilkan nilai yang cukup baik. Aku ingat sekali saat guruku bertanya di kelas,
“Apa cita-citamu, Nak?”.
“Ingin menjadi seorang pengusaha, Pak”, tanpa ragu tiba-tiba aku menjawab.
“Memangnya kamu ingin menjadi pengusaha apa, Nak?”, guruku bertanya lagi.
”Ingin jadi pengusaha roti dan kue yang sukses”.    Jawabku.
 Lalu teman-temanku heran dengan jawabanku. Guruku bertanya lagi,
“Apa kamu tidak salah masuk ke sekolah ini?”.
Lalu guruku bertanya pada semua murid, “kira-kira apa yang harus dilakukan oleh Anisa untuk mencapai cita-citanya itu?”.
Temanku menjawab,” seharusnya Anisa masuk sekolah boga untuk mengasah kemampuannya agar cita-citanya tercapai”.
Akupun merasa bersalah telah menjauh dari impian yang aku inginkan. Setelah lulus SMA, ingin sekali aku melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, akupun tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa masuk sekolah masak. Salah satu perguruan tinggi di Jakarta, yaitu Universitas Negeri Jakarta yang aku tahu ada jurusan memasaknya. Sebelum tes perguruan tinggi, aku di daftarkan bimbel oleh kakakku. Dia berharap agar aku bisa lolos dalam tes ini. Namun, Allah belum mengabulkan doaku untuk masuk di perguruan tinggi negeri. Saat itu, aku sangat sedih antara melanjutkan ke sana atau tidak, tetapi banyak temanku yang memotivasi dan berharap agar ditahun depan aku bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang aku inginkan.
Selama setahun aku didaftarkan kembali untuk mengikuti bimbel, khusus untuk masuk PTN. Di sana lah aku bertemu banyak orang hebat yang tidak mudah patah semangat untuk mencapai cita-citanya sehingga membuat aku semakin bersemangat belajar. Tak terasa SBMPTN sebentar lagi tiba, ada rasa kangen yang akan diingat terus sampai kapanpun saat kita belajar bersama dari pagi hingga sore setiap hari, berlomba-lomba masuk sepuluh besar setiap ulangan yang diadakan setiap seminggu sekali, berbagi cerita satu sama lain tentang kehidupan masing-masing, tentang konsultasi jurusan bersama guru-guru kami agar jurusan yang kami pilih menjadi jalan yang memudahkan kami menuju cita-cita, tentang apapun yang terjadi pada hasil pengumuman SBMPTN, dan masih banyak lagi.
SBMPTN pun tiba, dan aku sangat bersungguh-sungguh mengerjakannya. Hingga diakhir pengumuman pun kami semua dapat bernapas lega karena masuk dalam perguruan tinggi negeri. Begitupun aku yang mendapatkan PTN terkenal di Jakarta, yaitu Universitas Negeri Jakarta dan masuk dalam program studi Pendidikan Tata boga. Meskipun aku berasal dari SMA, tetapi aku tak menyesal bahkan merasa bersyukur bisa mendapat ilmu dari semua bidang. Inilah merupakan titik awal yang nantinya akan mengantarkanku pada impianku sejak kecil. Amin.
Oprah Winfrey pernah mengatakan “saya telah jatuh pada jurang terdalam dalam hidup ini karena tidak ada lagi jurang lebih dalam dimana saya bisa jatuh lagi, maka satu-satunya yang ada dipikiran saya adalah bagaimana saya bisa memanjatnya dan terus mendaki hingga ke puncak”. Begitulah kehidupan para bintang!
Jadi, cita-cita sejak kecil sangat berarti untuk memotivasi diri kita untuk mencapai impian yang kita inginkan. Tak ada kata terlamabat untuk mencapai impian yang kita inginkan dan jadikan hobi yang kita sukai sebagai jalan menuju kesuksesan yang akan mengantarkan kita pada cita-cita.


Postingan ini adalah kurikulum KOMBUN Periode ke-3 bulan September 2014, dengan tema kisah inspirasi masa sekolah. Terimakasih untuk KOMBUN yang membuat saya menjadi ingin berbagi kisah inspirasi dari sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya.


Sabtu, 06 September 2014

Kemerdekaan yang Belum Usai

Hai pemuda Indonesia!

Masih ingatkah kalian dengan ungkapan Bung Karrno,  “Jas Merah” yang berarti Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah? Ya, kita memang tidak boleh melupakan sejarah karena sejarah merupakan saksi bisu suatu peristiwa yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Jika kita berkaca pada masa lalu saat para pahlawan berjuang mempertahankan kemerdekaan hingga rela mengorbankan harta dan nyawa, lantas apakah kita sudah mengisi kemerdekaan ini dengan sepenuh hati?
Arti kata merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat ialah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, sedangkan bebas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat ialah lepas sama sekali (tidak terhalang, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dgn leluasa); lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb); tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb); merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing); tidak terdapat (didapati).
Jika kita lihat dari pengertian di atas, negara kita memang sudah merdeka dan bebas dari penjajahan fisik, seperti yang tertulis dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak ada lagi perang senjata (bedil) vs bambu runcing, meriam, tank-tank besar yang lalu-lalang, serta suara tembakan di  sana-sini. Namun, makna kata merdeka dan bebas tersebut saat ini terlihat multitafsir. Secara fisik, kita memang sudah merdeka, tetapi secara moral apakah kita benar-benar sudah merdeka dan bebas? Jika iya, bagaimana bisa istilah degradasi moral yang sasarannya ditujukan untuk para generasi bangsa sering kita dengar di masyarakat? Jika iya, bagaimana bisa sesuatu yang berbau luar negeri (non-Indonesia) menjadi sangat digemari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia? Dan jika iya, bagaimana bisa kejahatan dan ketidakadilan masih bebas berkeliaran di sana-sini?

Penjajahan Versi Baru
Tanpa kita sadari, saat ini, negara kita masih terjajah. Penjajahan yang terjadi saat ini  bukanlah penjajahan secara fisik, melainkan moral. Perang yang terjadi saat ini bukanlah perang dengan senjata, melainkan dengan teknologi. Kita seringkali menyalahgunakan kehadiran teknologi sebagai sarana untuk melancarkan aksi kejahatan, seperti penipuan, penculikan, transaksi narkoba, perampokan, bahkan alat untuk menyebarkan pornografi yang akhirnya berdampak pada rusaknya otak dan akhlak para generasi bangsa.
Kecanggihan teknologi lainnya dapat kita lihat pada tayangan yang ditampilkan oleh beberapa oknum media yang isinya bukannya mendidik, melainkan untuk memprovokasi masyarakat agar saling membenci, film, sinetron, dan lagu-lagu yang seharusnya dikonsumsi untuk orang dewasa justru dinikmati oleh anak-anak,  dan sebagainya.  Apa yang terjadi saat ini masih dapat diatasi jika kita semua mau bekerja sama untuk mengubahnya. Tentunya Indonesia masih memiliki harapan untuk menjadi suatu negara yang bebas dari segala penjajahan apa pun.

Harapan Itu Masih Ada
Rasanya tidak adil jika kita memandang Indonesia hanya dari satu sudut pandang, yakni kekurangannya. Di balik itu semua, kita masih mempunyai banyak kelebihan yang mungkin lepas dari pandangan masyarakat yang lain. Berkaitan dengan kemerdekaan, nasionalisme, keberlangsungan NKRI, harapan itu masih ada. Indonesia masih mempunyai banyak generasi bangsa yang cerdas dan berprestasi,  berjiwa Pancasila, dan menghargai keberagaman. Sebagai contoh, banyak pelajar Indonesia yang memenangkan lomba olimpiade tingkat nasional bahkan internasional, para mahasiswa yang memperkenalkan budaya Indonesia di mancanegara melalui bakat dan prestasinya secara akademik maupun nonakademik, para atlet muda berprestasi yang berjuang keras membela Indonesia sehingga bendera merah putih mampu berkibar di negara lain, dan sebagainya. Mereka merupakan salah satu contoh dari sekian banyak anak muda berprestasi lainnya yang nantinya akan menjadi harapan untuk menjaga negara Indonesia tercinta ini.
Inti dari semua itu, pastinya kita tidak menginginkan berbagai macam bentuk penjajahan apapun masuk kedalam negara kita. Lalu, bagaimana cara kita untuk meminimalisasi bahkan kalau perlu menghilangkan penjajahan-penjajahan tersebut? Tentu saja dibutuhkan kerja sama dari semua pihak untuk menuntaskan hal ini.
Dari pesatnya perkembangan teknologi, diharapkan masyarakat mampu menyeleksi tayangan televisi yang mendidik untuk anak. Para musisi juga diharapkan mampu membuat lagu-lagu yang bertemakan nasionalisme dan lagu-lagu yang mendidik untuk anak. Sementara itu, dari ranah pretasi yang pernah ditorehkan oleh para generasi bangsa, sudah selayaknya bagi pemerintah untuk mengapresiasi prestasi mereka agar mereka merasa dihargai. Dengan begitu, tidak akan kita dengar lagi para cendekiawan Indonesia yang lebih memilih bekerja atau bahkan tinggal di luar negeri gegara mereka lebih sejahtera dan dihormati di sana, tidak akan kita dengar lagi para siswa pintar yang putus sekolah karena kekurangan biaya, serta tidak akan kita dengar lagi para atlet yang hidupnya terlantar setelah pensiun. Semoga.  


Postingan ini adalah kurikulum KOMBUN periode ke-2 Bulan Agustus 2014, dengan tema Generasi Muda Bicara Kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia.